|
Pergumulan Kristen: Apakah Itu?
|
Nats:
Matius 19:16-22
Pengkhotbah :
Pdt.
Thomy J. Matakupan
Nats Alkitab kita pada
hari ini merupakan salah satu contoh yang Kristus ajarkan tentang bagaimana
mengikut Dia. Tuhan Yesus berkata kepada orang muda itu demikian: ada yang masih
perlu kamu kerjakan agar sempurna yaitu juallah segala milikmu dan berikanlah
itu kepada orang-orang miskin lalu ikutlah Aku. Orang muda itu merasa susah
untuk melakukan apa yang Tuhan mau. Injil Lukas mencatat bahwa orang muda itu
adalah seorang pemimpin, berarti dia mempunyai kemampuan untuk mencerna apa yang
Tuhan Yesus katakan. Orang muda ini adalah orang yang sangat rohani, dia berani
berdiri dengan kepala tegak dan berkata kepada Tuhan Yesus bahwa semuanya itu
sudah dia lakukan sejak masa mudanya, masih adakah lagi yang kurang. Tuhan Yesus
berkata bahwa masih ada yang kurang. Jawaban ini tidak pernah terpikirkan oleh
orang muda ini lalu dia pergi membelakangi Tuhan Yesus. Ada semacam pertimbangan
pemikiran di dalam diri orang muda ini.
Khotbah pada hari ini
hendak menyoroti tentang pergumulan Kristen. Kita banyak sekali menggunakan
istilah “pergumulan“ ini. Apa yang sebenarnya menjadi pergumulan orang muda ini?
Mengapa dia bergumul? Apa yang menjadi esensi pergumulan Kristen?
Apakah pergumulan itu
sebenarnya? Secara realita, ketika kita berkata bahwa kita sedang bergumul,
sebenarnya kita sedang ada masalah. Sebagai orang Kristen, kita lebih cenderung
memilih kata “bergumul“ daripada kata “masalah“ untuk menjaga identitas
kekristenan kita. Pergumulan Kristen yang sebenarnya adalah ketika dalam
menghadapi suatu masalah orang tersebut mencari kehendak Allah dalam masalah
tersebut. Jikalau tidak menyertakan Tuhan dalam masalah yang sedang dihadapi,
maka hal tersebut bukanlah merupakan pergumulan.
Kita menemukan suatu
problema yang besar dalam suatu pergumulan yaitu Allah memiliki kehendak
sedangkan kitapun memiliki kehendak. Jadi pergumulan itu muncul ketika kita
berusaha menempatkan kehendak kita bersama-sama dengan kehendak Allah; mulailah
muncul konflik didalamnya karena terjadi benturan kehendak; kita tidak ingin
kalau kehendak kita dikesampingkan. Kalau kita taat kepada kehendak Tuhan maka
tidak akan ada lagi kesusahan/ benturan. Selama kita masih merasa susah
merupakan tanda bahwa pergumulan kita belum selesai, kita masih “bertarung“
dengan Tuhan sama seperti Yakub yang bertarung dengan Allah semalaman dan
menyerah ketika menjelang fajar setelah Tuhan mematahkan pangkal pahanya. Kita
bergumul sampai “fajar tiba“, mungkin sampai 1 minggu atau 1 bulan atau 1 tahun
atau bahkan bertahun-tahun.
Kita sebenarnya
mempunyai pergumulan yang sama dengan orang muda ini. Kita bertanya tentang
kehendak Tuhan. Setelah Tuhan memberitahukan kehendakNya, kita mempertimbangkan
dan memikirkannya. Di sinilah mulai muncul permasalahan, hati kita menjadi tidak
senang lalu kita pergi meninggalkan Tuhan. Kalau kita mau taat kepadaNya maka
kita akan dengan hati tenang berkata: Tuhan, kehendakMu yang jadi. Kita akan
hidup dengan hati tenang dan tanpa kesulitan jika kita hidup dalam kehendak
Tuhan.
Ada 4 penyebab dari
pergumulan yang belum selesai yaitu:
1) karena kita
merasa ada sesuatu yang berharga dalam hidup kita.
Sesuatu yang berharga
itu bukanlah materi melainkan keinginan untuk mengatur diri sendiri. Orang muda
ini senang dengan hal-hal rohani, dengan apa yang Tuhan kerjakan, bahkan dia
mengerjakan semuanya itu sejak kecil. Tetapi ketika Tuhan Yesus menyuruhnya
untuk menjual segala miliknya lalu mengikut Dia, orang muda itu menolak. Hal ini
menunjukkan adanya wilayah dalam hidup orang muda ini yang tidak keberatan untuk
diberikannya kepada Allah, tetapi ada juga wilayah yang dia keberatan kalau
dituntut Tuhan dari dia. 2 wilayah ini mungkin juga ada dalam hidup kita. Ada
“wilayah aman“ dimana kita rela mengorbankan apapun karena kerugiannya hanya
sedikit, ada juga wilayah dimana Tuhan menuntut hati kita dan wilayah inilah
yang sangat sulit untuk kita berikan kepada Dia. Kita bermain-main dengan Allah,
seakan-akan Allah tidak tahu kalau kita mempunyai wilayah seperti itu. Tuhan
menuntut wilayah yang tak terbatas yaitu hati kita. Alkitab mencatat bahwa orang
muda ini sedih karena hartanya banyak. Hal ini sebenarnya bukan karena hartanya
banyak melainkan karena hatinya tidak rela memberikan hartanya yang banyak itu.
Sepanjang kita
mempunyai keingian sendiri yang dianggap sangat berharga maka pergumulan kita
tidak akan selesai. Untuk menyelesaikan pergumulan kita, kita mulai memakai
metode-metode tertentu seperti: a) metode tawar menawar, contohnya: Tuhan, aku
akan setia jika Engkau meluluskan permintaanku; b) metode tukar guling,
contohnya: Tuhan, aku akan tukar bagian saya dengan bagianMu, jangan lupa dengan
yang telah aku berikan; c) metode tarik ulur, contohnya: Tuhan, sekarang saya
patuh kepadaMu, tetapi ... Semua metode itu muncul karena kita ingin menyertakan
keinginan kita sendiri berjalan bersama dengan kehendak Tuhan. Kita lupa bahwa
Tuhan bukanlah seorang juru runding. Tuhan tidak punya penawaran, yang
dipunyaiNya adalah tuntutan. Manusia tidak punya penawaran, yang dipunyainya
hanyalah ketundukkan.
2) karena adanya
perasaan kepemilikan.
Kita tahu bahwa semua
yang ada pada kita adalah milik Tuhan, bukan milik kita, tetapi di sisi lain
kita masih juga susah ketika harus memberikannya kembali kepada Tuhan karena
kita merasa semua yang Tuhan berikan kepada kita adalah menjadi milik kita,
telah terjadi perubahan status kepemilikan. Kita merasa sulit untuk
melepaskannya karena sudah terlanjur mencintai hak kepemilikan tersebut.
Kita harus sadar bahwa
suami/istri/anak kita bukanlah milik kita, dan ketika suatu hari Tuhan
mengambilnya kembali maka kita boleh sedih sekaligus mengingat bahwa itu
bukanlah milik kita. Tuhan mengambil bukan berarti orang tersebut meninggal
dunia tetapi bisa juga dalam arti Tuhan mau memakainya menjadi hambaNya. Tuhan
mengambil untuk memberikan kembali yang baik dan untuk membawa kita kepada
kebenaran bahwa kita tidak memiliki apa-apa. Alkitab mencatat bahwa kita datang
ke dunia ini telanjang dan pulang telanjang. Tuhan mengambil untuk meluputkan
orang tersebut dari dosa merasa memiliki apa yang Tuhan miliki.
3) karena kita merasa
mempunyai hak untuk diperlakukan sepatutnya.
Orang muda ini merasa
mempunyai hak untuk diperlakukan dengan sepatutnya oleh Tuhan karena sejak kecil
sudah melakukan apa yang Tuhan mau. Tuhan Yesus hendak menunjukkan bahwa dia
tidaklah sempurna, ada kurangnya. Kemudian orang muda ini sepertinya berkata:
Tuhan, aku sudah melakukan semuanya itu tetapi mengapa justru Engkau yang
membuat hubungan ini menjadi buruk?
Ada seseorang di abad
ke-16 yang hidupnya sangat rohani, senang berdoa. Suatu hari dia menemukan bahwa
pengalaman doa bukan lagi menjadi sesuatu yang menyenangkan tetapi justru
menyakitkan karena dia menjumpai keadaan dimana Allah tidak menjawabnya.
Sampai-sampai dia menuliskan kalimat demikian: Tuhan, kalau memang demikian
Engkau memperlakukan sahabat-sahabatMu, maka tidaklah heran kalau Engkau punya
banyak musuh.
Kita mungkin tidak
berani berkata seperti diatas tetapi kita mungkin akan bertanya:“ Mengapa Engkau
membuat semuanya menjadi buruk?“ ketika kita menerima perlakuan tidak seperti
yang kita pikirkan sepatutnya kita terima. Perlu kita sadari bahwa Allah berhak
melakukannya.
3) karena takut
kepada tuntutan Allah.
Setiap kehendak Allah
selalu disertai dengan konsekuensi. Jangan ingin mengerti kehendak Allah jika
tidak bersiap menerima konsekuensinya. Tidak ada kehendak Allah yang tanpa
konsekuensi. Janganlah kita berpikir bahwa ketakutan itu muncul karena problema
psikologi. Ketakutan itu muncul karena kita tidak siap menerima kehendak Tuhan.
Alkitab mengatakan
bahwa Allah mungkin hadir dalam semua kekacauan hidup manusia. Allah tidak
selalu hadir dalam ketenangan. Ketika kita menjadi susah hati karena kehendak
kita berbenturan dengan kehendakNya, justru itulah momen dimana Allah hadir
dalam hidup kita. Dia hadir dan menyatakan kehendakNya maka kita akan gelisah.
Janganlah mencari ketentraman yang lain kecuali kita tunduk kepadaNya maka kita
akan menemukan ketenangan dalam jiwa kita.
Elia menemukan
kehadiran Tuhan dalam peperangan, dalam ketakutan dan gemetarnya dirinya pada
saat bertarung dengan nabi-nabi Baal. Bagaimana jadinya kalau Tuhan tidak
menurunkan api ketika dia memintanya? Elia menjadi gemetar. Elia juga menemukan
Allah didalam angin sepoi-sepoi ketika dia bersembunyi di gua dalam pelariannya.
Apa sebenarnya yang
menjadi esensi pergumulan kita? Dengan kata lain: apa yang menjadi masalah dalam
kerohanian kita? Yang menjadi masalah adalah :
1) pergumulan
untuk mengenal dan mengasihi Dia.
Orang muda ini lulus
dalam hal melakukan perintah Tuhan yang berkaitan dengan sesama tetapi dia
kurang dalam hal mengasihi Tuhan. Kita seharusnya lebih banyak mengesampingkan
keinginan kita dan memberikan perhatian lebih banyak kepada keinginan Tuhan.
Selama pergumulan kita hanyalah berkisar apa yang Tuhan buat bagi kita dan apa
yang bisa kita dapatkan dari Tuhan maka itu bukanlah esensi dari pergumulan.
Marilah kita menyelesaikan pergumulan utama kita yaitu bagaimana kita bisa
mengenal dan mengasihi Tuhan.
2) pergumulan
untuk bisa percaya dan menerima Dia.
Kita berada dalam
kondisi yang susah untuk bisa percaya kepada Dia. Kalau kita tidak bisa percaya
kepadaNya maka kita tidak akan bisa menerima Dia. Kalau kita punya keinginan
untuk percaya merupakan tanda bahwa Tuhan sudah hadir dalam hidup kita dan
mencondongkan hati kita untuk mencari cara agar hati kita bisa percaya. Kalau
kita mengabaikannya berarti kita telah membuang anugerah dan kesempatan itu.
Kita patut berterima kasih kepada Tuhan kalau kita ada keinginan untuk percaya,
dan minta Tuhan untuk mengajarkannya kepada kita.
Kalau kita memulai
dengan iman yang tidak beres mencari kehendak Tuhan, maka hasilnya adalah kita
akan pergi membelakangi Tuhan dan menjadi kecewa. Iman yang tidak beres akan
menghasilkan ketidaksediaan untuk mau percaya. Marilah kita katakan kepada
Tuhan: Tuhan, aku mau mengizinkan hatiku untuk mau percaya kepadaMu dan tunduk
kepada kebenaran Tuhan. Lalu tetapkan dalam hati kita bahwa hati kita adalah
milik Dia.
3) pergumulan
untuk tetap mengikut Dia.
Kalau kita merasa ikut
Tuhan adalah senang selalu, mungkin sekali kita sedang hidup dalam iman yang
tidak mempedulikan kehendak Tuhan. Hidup ikut Tuhan tidaklah selalu senang. Pada
saat awal kita mengikut Tuhan, kita memiliki kehidupan rohani yang menyenangkan
karena setiap doa kita dijawab oleh Tuhan, setelah sekian lama hal ini tidak
lagi terjadi dan hati kita merasa susah, disinilah kita sedang mengalami
pertumbuhan iman. Pertumbuhan selalu membawa kesusahan/ kesakitan. Kita harus
terima kenyataan bahwa ikut Tuhan itu susah. Janganlah kita lari/ menolaknya
karena mungkin Tuhan hadir disana. Semakin kita dewasa, kita harus dapat
menerima realita hadirnya Tuhan, dan kita masuk ke dalam pergumulan bagaimana
untuk tetap ikut Dia.
Kristus memanggil kita
untuk memikul salib, menderita, masuk ke dalam kekudusan tetapi zaman ini
memanggil kita untuk bersenang-senang di dalam Dia, menikmati kenyamanan di
dalam Dia, dan menikmati kebahagiaan murahan yang menjijikkan.
Renungkanlah:
-
Hal apakah yang paling bernilai dalam hidup Anda? Apakah hal ini sudah Anda persembahkan pada Allah? Berdoa dan hal apa lagi yang Anda mau lakukan supaya hal tersebut boleh menjadi persembahan yang lebih diperkenan oleh Allah?
-
Sharingkan pada rekan seiman Anda sebuah pelajaran iman yang Anda dapatkan atas satu “pergumulan” yang pernah Anda alami baru-baru ini dalam saling membangun iman percaya pada Kristus.
0 komentar:
Posting Komentar